Kamis, 29 Maret 2012

SALAMKU UNTUK PETINGGI NEGERI ~ Irma Meida

Lihatlah wahai petinggi negeri
Sadarkah kau, akan kami yang ada disini
Menahan lapar,  beserta perih yang tiada henti
Tubuh yang kering kerontang tak berisi
Sepiring nasi, bahkan sesuap nasi


Kami disini menanti
Ulur tanganmu yang suci tak terkotori
Bergelimang harta, tercukupi jasmani
Berbeda jauh dengan kami yang kotor jasmani
Akan tetapi hanya jasmani yang terkotori


Bukan rohani yang kau punyai
Bahkan mungkin,

Kau tak punya hati
Untukmu sedikit berbagi


Tak cukupkah hartamu selama ini
Memuncak bagaikan rinjani
Kusalamkan curahan mereka yang tersakiti
Karenamu para petinggi negeri
Dan ingatlah selalu, singgahsanamu dari kami


Buatlah kami bangga, bukan kecewa
Buatlah kami bahagia, bukan menderita
Atas pengorbanan kami selama ini
Yang terus menjadi pelampiasanmu selam ini
Kami korban dari kecuranganmu dinegeri ini
Bawalah kami sejahtera bersama,

Seperti yang kau janjikan untuk kami semua


Jangan kau bodohi kami lagi
Yang hanya bisa diam dan memandangi
Atas hura-huramu untuk negeri
Seperti yang terlihat selama ini
Bawalah negeri ini maju akan prestasi
Bukan korupsi







Selasa, 27 Maret 2012

SENYUMAN TERAKHIR IBU

“SENYUM TERAKHIR IBU” Hujan turun begitu deras saat Ibu pergi kedalam pelukan-Nya. Air mata tak bisa berhenti mengalir seperti hujan yang tak henti jatuh, saat kulihat wajah ibu yang tersenyum damai. Aku terus menatap mata ibu, mata yang selalu membuat diri ini tersenyum, tapi senyumanku sekarang terkunci rapat. Hanya tangisan dan teriakan yang menyebut “IBU”. Seseorang yang tak asing lagi datang menghampiriku, seseorang yang dulu menggoreskan luka dihatiku dan yang lebih menyakitkan dihati ibu. Seseoranng itu adalah ayahku sendiri. Yang meninggalkan kami disaat ibu sedang sakit, gara-gara wanita yang membuatnya buta akan cinta, ayah tega meninggalkan ibu demi hidup bersama wanita keparat itu. Aku tak ingin ayah menatap wajah Ibu yang begitu suci, tak ingin wajah Ibu yang begitu damai bertemu dengan lelaki seperti dirinya yang telah membuat ibuku semakin parah penyakitnya dan sampai akhirnya ibu pergi meninggalkan dunia ini. “Pergi kamu jangan dekati Ibuku!” Teriakku seraya memeluk tubuh Ibu yang sudah kaku. “Riska maafkan Ayah.” Dia berusaha memelukku, tapi aku melepaskan pelukan itu. “Ayah? ” tanyaku, tertawa getir. “Ayahku sudah mati, mati karena wanita lain. Sekarang aku anak yatim piatu. Anda puas?” Aku membentak dengan tangisan yang tak terbendung. “Riska sudahlah, biarkan dia melihat Ibumu.” ujar Budheku. “Riska nggak rela kalau orang ini melihat wajah Ibu yang begitu damai, Tasya nggak mau Ibu menangis lagi Budhe!” Aku semakin menangis. Tubuhku lemas, dan “BRUGGG!!” Aku terjatuh pingsan. Aku melihat Ibu begitu sehat, dia tersenyum bahagia padaku, memakai baju putih nan indah disebuah padang rumput yang hijau, aku berlari dengan senyuman. Tapi Ibu semakin menjauh, aku mulai gelisah dan terus berlari tapi Ibu terus menjauh aku mulai menangis dan aku terbangun. Ternyata itu hanya mimpi. . “Riska. . . kamu sudah sadar?” tanya Budheku. “Ibu dimana?” tanyaku pada budhe. Dia memelukku dengan tangisannya. “Riska Ibumu sudah dimakamkan, kamu harus kuat dalam menjalani cobaan hidupmu Nduk. Budhe yakin kamu pasti bisa melewati ini semua.” Budhe menangis membasahi bajuku. Aku terdiam. Sekarang aku sendiri, Ibu sudah ada dalam pelukan-Nya. “Maaf Bu, Tasya tak bisa mengantar Ibu.” Aku menangis bersama pelukan Budhe.
                                                                              ***
Sudah seminggu setelah kepergian Ibu, aku menjadi pendiam. Tak ada senyuman lagi yang tersungging dari bibir ini, tak ada keceriaan yang tampak diwajahku, tak ada kebahagiaan dalam hari yang ku jalani. Yang ada hanya kesedihan. Di sekolah aku menjadi penyendiri, meskipun sahabat-sahabatku selalu menyemangatiku tapi itu tak bisa merubah segalanya. Aku hanya bisa diam, termenung. Aku teringat, disaat ibu masih bisa tersenyum menyemangatiku, disaat ibu terus menasihatiku akan kandasnya hubungan asmaraku, disaat aku sakit dialah yang selalu ada untukku. Pikirkupun melayang jauh mengenang masa disaat Ibu masih berada disisiku.
                                                                             ***
Tengah malam itu aku masih termenung sendiri di ujung kamar. Terbayang dengan semua yang telah terjadi hari ini dan hari yang telah kulewati sebelumnya. Semua sungguh membuatku frustasi. Yaa…hari ini aku baru saja putus cinta. Dengan terpaksa aku harus melepas dirinya. Dialah Ryan, kekasih sekaligus kakak kelasku. Aku memang murid baru tahun ini. Ryan adalah kakak kelasku yang berbeda 1 tahun. Beruntung sekali aku bisa masuk ke sekolah yang selama ini aku impikan. Tapi masalah yang baru saja menimpaku seperti telah merenggut semua kebahagiaan yang kini kucapai. Tak terasa air mataku menetes deras. Aku menangis karena aku teringat akan semua kenangan yang telah kulalui bersama Ryan. Ryan yang aku sayangi, Ryan yang aku cintai kini telah membuatku patah hati dengan keputusannya untuk mengakhiri hubungan kami. Padahal selama ini aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik baginya. “(Tok...tok...tok...) Mbak Riska, dipanggil Ibu disuruh makan.” Pembantu dirumahku Mbak Parmi telah membuyarkan lamunanku. “Iya Mbak, sebentar !” Jawabku singkat. Dengan segera kuhapus air mata yang telah lama bertengger dikedua pelupuk mataku, agar Ibu tidak curiga. Namun usaha itu ternyata sia-sia. Mataku membengkak besar. Membentuk garis hitam di bawah mata. Akhirnya tak kuhiraukan apa yang terjadi dengan mataku ini. Toh sebenarnya Ibu sudah mengetahui ini semua. Ku turuni anak tangga dengan lesu. Ibu yang sedari tadi sudah menunggu di meja makan, ketika melihatku sepertiini, merasa prihatin dengan keadaanku sekarang. “Ris, makan dulu gitu lho. Jangan nangis terus. Kalau lihat kamu begini Ibu jadi ikut sedih tho.” Kata Ibu. “Iya Bu ... Ini juga mau makan.” Jawabku seraya tersenyum tipis. Acara makan itupun selesai. Dan aku bergegas kembali ke kamar, mencoba menenangkan hati. Porsi makanku hari ini berbeda dari hari biasanya. Aku hanya makan beberapa sendok saja. Itupun sudah membuatku kenyang. Ibu hanya menggelengkan kepala melihatku seperti itu.
                                                                             ***
Di kamar pikiranku semakin kacau. Kuputuskan untuk tidur sejenak. Barangkali setelah bangun tidur pikiranku akan lebih tenang. Akupun tertidur pulas hingga tengah malam. Dan ketika terbangun aku seperti orang ling-lung. Aku hanya menatap langit-langit kamar dan pikiranku masih terbayang dengan Ryan. Tak terasa air mataku menetes lagi. Aku tak kuasa menahannya, hingga akhirnya aku tertidur kembali sampai pagi menjelang. Ibu mengetuk pintu kamar untuk membangunkanku. Akupun terbangun dan aku tak bisa lagi menyembunyikan apa yang telah terjadi denganku tadi malam. Mataku benar-benar terlihat membengkak besar sekali. “Tadi malam kamu nangis lagi ya Ris?” Tanya Ibu tiba-tiba. Aku bingung harus menjawab apa. Aku tak mau membuat Ibu terus kepikiran karena masalahku ini. “Udah Ris, jujur aja sama Ibu. Nggak usah bohongin Ibu. Ibu tahu kok tadi malam kamu nangis lagi kan? Tuh kelihatan dari kantung mata kamu.” Desak Ibu. “Akhhh, ibu sok tau deh. Hehe.” Tawaku tipis. “Sama orang tua nggak boleh bohong. Hayo tadi malam pasti kamu nangis lagi kan? Jujur aja.” Ibu tetap saja yakin kalau aku nangis lagi semalaman. Meskipun aku mencoba untuk menutupinya, namun tetap saja tidak bisa. Akhirnya aku mengakui apa yang terjadi denganku tadi malam. “Iya Bu, tadi malam Riska nangis lagi. Hehe.” Jawabku sambil mengucek mata. “Tuhhh kan. Ibu nggak bisa dibohongin. Kamu kira Ibu nggak pernah muda apa?! Ibu juga pernah ngerasain kayak kamu lagi Ris! Hehehe. Oh iya Ris, nanti mau ikut Ibu nggak ?” “Mau kemana Bu??” “Yaaa… pokoknya nanti ikut Ibu aja deh ... ! Kamu pasti bakalan ngerasain hal yang beda dari sekarang.” “Aduuuuh, mau kemana sih Bu?? Jangan bikin penasaran dong!” “Yaaa lihat aja nanti!! Yang penting tuh kamu mau nggak ikut sama Ibu?” “Mmmhhh ... Gimana ya Bu. Yaudah deh Riska ikut Ibu aja, daripada Riska mati penasaran?? Kan nggak lucu Bu? Hehe.” “Hussss, nggak boleh ngomong gitu Ris. Emang kamu sudah siap mati? Ibu aja belum siap kok. Hehe.” Seloroh Ibu dengan gaya khas jenakanya. “Hehe, ya nggak mau tho Bu. Kan Riska cuma bercanda?” Jawabku enteng. “Tapi bercandanya keterlaluan sayang ... Yaudah cepetan siap-siap sana! Lebih cepat lebih baik. Kayak katanya Pak Jusuf Kalla tuh. Hehehe”. Perintah Ibu seraya bergurau kepadaku. Mungkin supaya aku bisa sedikit melupakan masalah yang telah aku hadapi sekarang. “Oke Ibuku sayang!!!” Jawabku sambil beranjak.
                                                                                  ***
“Bu, sebenarnya kita mau kemana sih?! Perasaan dari tadi cuma muter-muter doang deh. Keburu penasaran nih!!” “Sabar sedikit kenapa sih Ris?? Sebentar lagi juga mau sampai.” Aku merasa sebal sama Ibu. Hampir satu jam kami berjalan mengelilingi alun-alun kota dan kami belum juga sampai di tempat yang dimaksud oleh Ibu. Aku hanya duduk terdiam sambil memandangi jalanan yang ramai oleh lalu lalang orang disekitar alun-alun itu. Sampai akhirnya aku teringat sesuatu. “Astaga ... Ini kan jalan yang pernah aku lewatin sama Ryan saat pertama kali kita ngedate?” Batinku. “Nggak! aku nggak boleh nangis. Pokoknya nggak boleh nangis! Malu dong sama Ibu.” Pikirku sambil melirik Ibu yang sedang santai duduk disebelahku. “Ayoo kita masuk ke mobil. Katanya sudah nggak sabar pengen lihat tempat yang Ibu maksud?” Kata Ibu mengagetkanku seraya menuntunku masuk mobil. “Ehh, iya Bu.”
                                                                                   ***
Semakin jauh perjalanan yang kami tempuh, aku semakin teringat dengan semua kenanganku bersama Ryan. Aku tak bisa menahan pedasnya mata ini. Dan akhirnya akupun menangis lagi. “Lohhh Ris, kok jadi mewek sih? Sabar dong, sebentar lagi juga sampai kok. Tenang aja.” “Bukan. Bukan gara-gara kelamaan Bu!” “Terus gara-gara apaan? Cerita dong sama Ibu!” Bujuknya. Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala mengisyaratkan bahwa aku nggak mau bercerita. “Tuh kan. Sama Ibu sendiri kok nggak mau cerita sih?” Aku masih saja menggeleng-gelengkan kepala. Dan sepertinya Ibu sudah lelah bertanya padaku. Akhirnya Ibu diam, membiarkanku menangis sendiri di sampingnya. Kacaunya pikiranku, ditambah sepinya suasana dalam mobil membuatku akhirnya merasa ngantuk dan tertidur sebentar. Ibu tetap saja membiarkanku terlelap dalam tangis. Dan ketika aku terbangun aku sudah dihadapkan dengan sebuah tempat. Tempat yang sungguh indah, asri, sejuk dan tenang sekali. Terlihat jelas di hadapanku terdapat sawah yang hijau kekuning-kuningan, menandakan sawah tersebut siap untuk dipanen. Terlebih lagi di ujung sana terlihat bukit-bukit penuh dengan pepohonan hijau ditambah dengan gubuk-gubuk mungil di tengah sawah dan sungai kecil yang mengalir dengan tenang. Aku yang sedari tadi berada di dalam mobil langsung bergegas keluar untuk merasakan indahnya tempat itu. Aku sendiri masih belum tahu ini sebenarnya tempat apa. Saat aku sudah berada di luar mobil aku masih melihat Ibu duduk di kursi sopir sambil tersenyum simpul kepadaku. Tak lama kemudian Ibu keluar juga dari mobilnya dan menghampiriku. “Gimana tempatnya? Bagus kan?” “Iya Bu. Bagus!! Bagus banget malah. Tempatnya tenang dan sejuk. Aku suka tempat ini Bu!” Ibu hanya tersenyum kepadaku dan menarik tanganku. “Mau kemana lagi Bu?” Tanyaku heran. “Sudahlah, ikuti saja Ibumu ini. Dijamin nggak bakal nyesel.” Jawab Ibu. Akhirnya kuikuti juga kemana perginya Ibu. Aku tak ingin terlalu lama merasa penasaran untuk mengetahui apa yang ingin Ibu tunjukkan kepadaku sedari tadi.
                                                                         ***
Sekian lama berjalan melewati hamparan sawah nan hijau kekuning-kuningan itu, akhirnya Ibu berhenti di depan sebuah gubuk kecil berbentuk segiempat dimana kita bisa melihat ke segala arah areal sawah itu. Ibu duduk di gubuk itu sembari menikmati pemandangan. “Bu, ini namanya tempat apa sih? Kok Riska baru tahu ya ada tempat seindah dan setenang ini?” Tanyaku penasaran. Ibu hanya membalas dengan senyum khasnya lagi, sambil masih melihat hamparan sawah yang ada di sekitarnya. “Lohh kok cuma senyum sih Bu? Ini namanya tempat apa sih? Tuh kan, Ibu tuh suka bikin orang penasaran...!” Rengekku pada Ibu. Ibu masih saja tersenyum. “Bu, dari tadi senyam-senyum terus ikh. Ditanyain anaknya juga, nggak dijawab. Ini tempat apa sih Bu??” “Dulu Ibu dan sahabat-sahabat ibu menyebutnya surga dunia.” “Hah? Maksudnya Bu? Riska nggak ngerti deh...” “Hmm, sebelumnya Ibu mau cerita sama kamu, Ris!” “Cerita apa Bu?” “Kamu tahu kenapa Ibu ngajak kamu ke tempat ini? Kamu tahu kenapa dari tadi kita cuma muter-muter di alun-alun sampai akhirnya kamu protes sama Ibu?” “Ehm, enggak Bu. Emangnya kenapa gitu?” “Disaat usiamu yang sudah bertambah dewasa ini, Ibu pengen kasih tahu kamu satu hal tentang hidup Ris. Hidup itu penuh dengan suka, duka. Dan kamu mungkin saat ini sedang merasakan duka di hidup ini. Masalah cinta, itu wajar kok. Ibu juga pernah mengalami seperti itu. Tapi yang Ibu pikirkan adalah ketika kamu terus-menerus larut dalam kenangan. Ibu tahu perasaan itu. Memang sulit bagi kita melupakan semua kenangan indah itu. Mungkin sekarang kamu bertanya-tanya mengapa Ryan tega menyakiti perasaanmu, padahal kamu sudah berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Kamu tahu nggak kunci dalam hidup ini adalah sabar dan ikhlas. Kalau pengen sabar dan ikhlas jangan pernah kamu menghitung seberapa besar kamu berkorban. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata yang baru saja Ibu sampaikan. Mungkin Ibu sudah tahu apa yang sedang aku pikirkan, hingga akhirnya dia membiarkanku untuk sejenak mencerna kata-kata itu. “Dan ... Satu hal lagi Riska! Hidupmu nggak cuma sampai disini saja sayang. Jalan hidupmu masih panjang Ris. Kalau mau nangis, menangislah sepuasmu. Nggak usah ditahan-tahan lagi, tumpahkan semuanya sekarang.” Ternyata memang benar aku akhirnya menangis juga. Menumpahkan semua uneg-uneg yang aku pendam selama ini, terlebih mengenai masalah yang sedang aku hadapi. Ibu benar-benar telah membuka pikiranku. Aku pun menyadari kalau terus-terusan menangis nggak akan menyelesaikan masalah, justru malah semakin membuatku terpuruk karena selalu teringat akan masalah tersebut. “Bagaimana?? Dengan begitu kamu pasti merasa lega kan?” “Iya Bu. Riska jadi bisa mengambil sisi positif dari ini semua.” “Nah, sekarang kamu tahu kan kalau di setiap duka itu pasti ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai tolak ukur kita agar tidak mengulang kesalahan yang sama?” “He’em, Bu.” Jawabku singkat sambil memandangi langit biru.
                                                                                 ***
Haripun tak terasa sudah semakin sore. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah. Keceriaan sudah mulai nampak padaku. Yaaa.. walapun belum semuanya. Tapi itu sudah cukup membuat Ibu senang melihat perubahanku ini. Di dalam mobil aku berfikir. Aku nggak nyesel kok pernah ketemu Ryan. Aku juga nggak nyesel pernah jadi bagian dari hidup Ryan. Justru dengan ini aku telah mendapatkan satu pelajaran hidup untuk kedepan yaitu menjadi orang sabar dan ikhlas seperti kata Ibu. *** Tak terasa air mata menetes deras di kedua pipiku. Aku menangis karena aku teringat akan semua kenangan yang telah kulalui bersama Ibu. Ibu yang sangat aku sayangi, Ibu yang aku cintai kini telah tiada. Hanya sedikit syair yang mampu kuciptakan agar aku bisa mengobati rinduku untukmu. IBU Terasa hampa ku sendiri Nikmati keindahan malam sembari menanti Angin bertiup serasa membelai rambut ini Dan berdoa kau datang menemani Kau cahaya bagiku Kau penghangat malamku Kau penyemangat hidupku Yang mulai berselimut pilu

                                                                      ***END***

LAGU RINDU-OZY IDOLA CILIK3

Bintang malam katakan (sampaikan) padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya


Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya


Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan

Senin, 26 Maret 2012

SEPI

Terasa hampa ku sendiri
Nikmati keindahan malam sembari menanti
Angin bertiup serasa membelai rambut ini
Dan berdoa kau datang menemani

Kau cahaya bagiku
Kau penghangat malamku
Kau penyemangat hidupku
Yang mulai berselimut pilu

Rindu akan hilang seketika
Ketika kau ucapkan kata-kata mutiara
Dingin, sepi akan hilang menjauh
Ketika kau genggam kedua tangan ini

Kau selalu petikan nada-nada syahdu
Gitar kecil iringimu lantunkan lagu
Untukku, oh sahabatku
Disana, bersama Tuhan mu

Semua canda tawa yang kulalui
Kini hilang bagai ditelan bumi
Wahai kau sahabat sejati
Meskipun kau pergi tinggalkan  sepi
Namun kau tetap dihati
Dan akan selalu tersenyum menantiku
Disurgamu nanti